Selasa, 31 Agustus 2010

Keutamaan Zakat


Zakat berasal dari kata zaka yang berarti suci, baik, berkah, tumbuh, atau berkembang. Menurut terminologi syariat (istilah), zakat adalah nama bagi sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syarat tertentu (nishab) yang diwajibkan Allah SWT untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula (QS. 9: 103 dan QS. 30: 39).

Infaq berasal dari kata anfaqa yang berarti mengeluarkan sesuatu (harta) untuk kepentingan sesuatu. Menurut terminologi syariat, infaq berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan/penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan Islam. Jika zakat ada nishabnya, infaq tidak mengenal nishab.

Infaq dikeluarkan setiap orang yang beriman, baik yang berpenghasilan tinggi maupun rendah, apakah ia di saat lapang maupun sempit (QS. 3: 134). Jika zakat harus diberikan pada mustahik tertentu (8 asnaf), maka infaq boleh diberikan kepada siapa pun. Misalnya, untuk kedua orang tua, anak−yatim, dan sebagainya (QS. 2: 215).


Shadaqah berasal dari kata shadaqa berarti benar. Orang yang suka bershadaqah adalah orang yang benar pengakuan imannya. Menurut terminologi syariat, pengertian shadaqah sama dengan pengertian infaq, termasuk juga hukum dan ketentuan−ketentuannya.

Hanya saja, jika infaq berkaitan dengan materi, shadaqah memiliki arti lebih luas, menyangkut juga hal yang bersifat nonmateriil. Hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Dzar, Rasulullah menyatakan bahwa jika tidak mampu bersedekah dengan harta, maka membaca tasbih, membaca takbir, tahmid, tahlil, berhubungan suami−istri, atau melakukan kegiatan amar ma’ruf nahi munkar adalah shadaqah.

Seringkali shadaqah dipergunakan dalam Al−Qur’an, tetapi maksud sesungguhnya adalah zakat (QS. 9: 60 dan 103). Yang perlu diperhatikan, jika seseorang telah berzakat tetapi masih memiliki kelebihan harta, sangat dianjurkan sekali untuk berinfaq dan bershadaqah.

Berinfaq adalah ciri utama orang yang bertaqwa (QS.2: 3 dan 3: 134), ciri mukmin yang sungguh−sungguh imannya (QS. 8: 3−4), ciri mukmin yang mengharapkan keuntungan abadi (QS. 35: 29). Berinfaq akan melibatgandakan pahala di sisi Allah SWT (QS. 2: 262). Sebaliknya, tidak mau berinfaq sama dengan menjatuhkan diri pada kebinasaan (QS. 2: 195).
 

Blogger